Langsung ke konten utama

Postingan

Asal Usul Ikan Patin

Alkisah hiduplah seorang nelayan tua bernama Awang Gading yang tinggal di Tanah Melayu. Ia tinggal seorang diri di tepi sungai yang luas dan jernih. Namun, hidup seorang diri tidak membuat Awang Gading berkecil hati, ia senantiasa bahagia menjalani hari-harinya karena ia selalu mensyukuri nikmat yang diberi Tuhan kepadanya. Dan yang ia lakukan sehari-harinya adalah menangkap ikan di sungai dan mencari kayu di hutan. Suatu sore, Awang Gading mengail di sungai selepas ia mencari kayu di hutan. Ia berkata “Semoga hari ini aku mendapatkan ikan yang besar.” Usai melemparkan kail ke sungai, ia menghibur dirinya dengan bernyanyi pelan. Tak lama, kailnya pun disentak ikan, ia pun berhati-hati mengangkat kail itu. Namun sayangnya ikan itu pun terlepas. Tidak putus asa, Awang Gading pun memasangkan umpan yang baru dan menunggu ikan memakan umpannya tersebut. Tak lama kailnya tersentak lagi, ia melihat yang menyentak kail itu adalah seekor ikan, tetapi setelah mengangkat kail perlahan, ikan itu p...

Putri Mambang Linau

  Bujang Enok pergi mencari kagu ke hutan. Ketika sedang mengikat kagu untuk dibawa pulang, tiba-tiba seekor ular berbisa mendekatinya. Ular itu siap mematuknya. Bujang Enok tak mau mati konyol. Untung saja ia selalu membawa sebilah rotan peninggalan almarhum ayahnya. Dengan sekali pukul, ular berbisa itu langsung mati. Dalam perjalanan pulang, Bujang Enok mendengar suara sekelompok wanita sedang bercakap-cakap. “Tahukah kau, ular berbisa itu sudah mati. Sekarang kita aman, tak ada lagi yang membahayakan kita,” demikian perbincangan mereka. Bujang Enok tak ambil pusing. Ia pikir, mereka hanyalah ibu-ibu yang biasa mencuci di sungai. Sesampainya di rumah, Bujang Enok hendak beristirahat melepas lelah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat dapurnya penuh dengan makanan lezat. “Siapa yang menyiapkan semua ini? Ibuku sudah lama meninggal, saudara aku tak punya, lalu siapa?” gumannya heran. Namun karena rasa lapar, ia tak berpikir lebih lanjut dan makan dengan lahap. Dalam hati ia berk...

Cerita Putri Kaca Mayang

  Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau, Indonesia. Sebelum ditemukannya sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. Namun, saat ini Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktivitas perdagangannya. Letaknya yang strategis (berada di simpul segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura), menjadikan Kota Pekanbaru sebagai tempat transit (persinggahan) para wisatawan asing, baik dari Singapura maupun Malaysia, yang hendak berkunjung ke Bukittinggi atau tempat-tempat lain di Sumatera. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai ini memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Terdapat dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat. Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Se...

TIMUN EMAS

Dahulu di Jawa Tengah ada seorang janda yang sudah tua. Mbok Rondo namanya. Pekerjaannya hanya mencari kayu di hutan. Sudah lama sekali Mbok Rondo ingin mempunyai seorang anak. Tapi dia hanya seorang janda miskin, lagi pula sudah tua. Mana bisa ia mendapatkan anak. Pada suatu hari, sehabis mengumpulkan kayu di hutan, Mbok Rondo duduk beristirahatsambil mengeluh. “Seandainya aku mempunyai anak, hidupku agak ringan sebab ada yang membantuku bekerja,” Tiba-tiba bumi bergetar, seperti ada gempa bumi. Di depan Mbok Rondo muncul raksasa bertubuh besar dan wajahnya menyeramkan. Mbok Rondo takut melihatnya. “Hai, Mbok Rondo, kamu menginginkan anak, ya? Aku bisa mengabulkan keinginanmu,” kata raksasa itu dengan suara keras. “Benarkah?” tanya Mbok Rondo. Rasa takutnya mulai menghilang. “Benar .. . tapi ada syaratnya. Kalau anakmu sudah berumur enam belas tahun, kau harus menyerahkannya kepadaku. Dia akan kujadikan santapanku” jawab raksasa itu. Karena begitu inginnya dia punya anak maka Mbok Ron...

Cerita Rakyat Melayu Riau : Legenda Putri Tujuh

            Legenda Putri Tujuh sangat termahsyur di Dumai dan menjadi cerita rakyat melayu Riau. Legenda ini menceritakan tentang sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang terdapat di Dumai. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari.           Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.           Seorang pangeran ternama bernama Empang Kuala terpikat dengan kecantikan Mayang Suri. Kemudian ia bermaksud melamar sang gadis. Namun tanpa diduga, pinangan...

Legenda Batu Menangis

  (ilustrasi) Dahulu kala, di sebuah bukit yang jauh dari Pedesaan. Hiduplah seorang Janda miskin bersama anak perempuannya. Anaknya dari Janda tersebut sangat cantik jelita, ia selalu membanggakan kecantikan yang ia miliki. Namun, kecantikannya tidak sama dengan sifat yang ia miliki. Ia sangat pemalas dan tidak pernah membantu ibunya. Selain pemalas, ia juga sangat manja. Segala sesuatu yang ia inginkan harus di turuti. Tanpa berpikir keadaan mereka yang miskin, dan ibu yang harus banting tulang meskipun sering sakit-sakitan. Setiap ibunya mengajaknya ke sawah, ia selalu menolak. Suatu hari, ibunya mengajak anaknya berbelanja ke pasar. Jarak pasar dari rumah mereka sangat jauh, untuk sampai ke pasar mereka harus berjalan kaki dan membuat putrinya kelelahan. Namun, anaknya berjalan di depan ibunya dan memakai baju yang sangat bagus. Semua orang yang melihatnya langsung terpesona dan mengaggumi kecantikannya, sedangkan ibunya berjalan di belakang membawa keranjang belanjaan, ber...

Tinta Akhir Tahun

(Karya: Erwin Hartono)   Ketika tinta akhir tahun kuhujamkan dalam secarik kertas yang masih tersisa di halaman paling belakang haruskah aku bercermin pada tahun yang akan berlalu yang hanya tinggal kenangan dalam kaleidoskop kehidupan   ketika tinta akhir tahun kutancapkan di bumi ibu pertiwi yang masih bervirus Covid-19 lewati masa bertahun kelabu tinggal kenangan menunggu detik pergantian tahun dengan melodi siap ditiup trompet tahun baru   ketika tinta akhir tahun tinggal setitik untuk lukiskan luasnya lautan kehidupan menatap masa depan biarlah sampai di sini akhir tulisan dalam lembar kehidupan yang akan dikenang untuk menatap tahun baru.                   Pekanbaru, 30 Desember 2020

Perayaan Ulang Tahun

(By: Erwin Hartono) Foto ilustrasi google.com Seorang siswa pernah bertanya, sir merayakan ulang tahun, itu untuk yang hidup ya, sir. Dengan sedikit mengerut kan kening, saya memikirkan jawaban siswa kelas 6 SD itu, sebut saja namanya Roma. Saya tidak mau asal jawab, apalagi hoaks (berita bohong). Sebab saya tidak suka menyebar berita bohong dan tidak suka mengadu domba, apalagi memecah belah umat manusia.   Saya lumayan lama memikirkan, memang setiap manusia yang lahir ke dunia pasti memiliki hari ulang tahunnya masing-masing. Namun ulang tahun juga menjadi peringatan pada beberapa momen seperti perayaan ulang tahun pernikahan, kenaikan jabatan, pangkat, dan sebagainya. Ada juga ulang tahun sebuah lembaga. Tapi intinya, saya mengarahkan ulang tahun kepada yang hidup dan kepada manusia.   Si Roma yang bertanya tampak masih penasaran. Saya membiarkan rasa penasaran itu, sebagai guru saya ingin dia memiliki pemikiran yang kritis dan cerdas, sambil menunggu, apalagi pertanyaannya...

Natal di Tengah Corona

(Karya: Erwin Hartono)   Berderai waktu menapaki hidup genapi nubuatan para nabi untuk kelangsungan dunia berwujud seorang manusia di tengah kesunyian malam hanya diterangi bintang timur bayi munggil harus terlahir lewat rahim tanpa dosa, tanpa cela   Hari ini, dua ribu tahun lebih penyelamatan terus terjadi walau di tengah badai covid-19 walau kesunyian selimuti hari kelahiran tak seramai pesta kelahiran tahun lalu walau setiap gereja terjadi pembatasan tak jadi penghalang tak jadi pembatas sebab Yesus lahir untuk setiap kita   Hari ini, ketika dunia berduka hampir setahun berwabah dalam dekap virus corona namun bukan akhir sebab akan lahir penyelamat manusia di setiap hati kita   Biarlah pembatasan terjadi biarlah jagak jarak terjadi biarlah tak berjabat tangan biarlah tak berkunjung bukan membatalkan kemuliaan kelahiran bukan menghilangkan kekhusukan perayaan sebab Yesus lahir dalam kesunyian   Hari ini kabar sukacita dibawakan untuk selamatkan kita dari...

Natal Hampir Tiba

  Sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal. Bersyukur kita masih diberikan kesehatan oleh-Nya. Lukisan Derren , siswa kelas 6C SD Kalam Kudus Pekanbaru merupakan gambaran  menyambut Natal. Selamat menyambut hari Natal, 25 Desember 2020 teman-teman.

Surat November

 (Karya: Erwin Hartono) Surat ini ditulis dengan tinta dan air mata darah kemerdekaan ini diraih dengan taruhan nyawa dihadapan peluru penjajah demi kehidupanku, demi kehidupanmu, demi kehidupan kita sertivikat tertinggi kemerdekaan ditorehkan dengan tinta emas jangan hancurkan dengan pidato-pidatomu dengan aksi orasimu dengan debatmu di kamera tivi jangan hancurkan dengan kata kebencian menebar di media sosial sebab persatuan adalah jiwa kesatuan adalah nafas perbedaan jadi warna-warni yang indah jangan hancurkan sebab Indonesia bukan untuk hari ini Indonesia adalah milik kita biarlah bhineka tunggal ika yang sudah terpatri jangan dicerai beraikan hanya untuk memenuhi keinginan sebab Indonesia bukan hanya hari ini biarlah pembangunan terus bergeliat sepanjang jalan negeri menerobos seluruh pelosok jangan dirusak jangan dibakar jangan dihancurkan sebab Indonesia bukan untuk hari ini saja yang harus musnah karena wabah corona membara di sekitar kita siap mengantarkan nyawa mari bers...

Lukisan Karya: Derren (Kls VIC SD Kalam Kudus Pekanbaru)

  Lukisan Pemandangan

Menggali Kuburan Sendiri

(Karya: Erwin Hartono) Di tengah hari yang panas seperti ini, Dian masih terlelap tidur. Seperti hari-hari yang lalu, Dian akan terbangun ketika perutnya sudah terasa lapar. Ketika terjaga dari tidur, langsung dapur jadi sasarannya, apalagi kalau tidak mencari makanan, apa yang bisa mengganjal perut.   Namun hari itu sangat berbeda dari kebiasaannya, Dian bukan langsung mencari makanan, melainkan dia menuju ke halaman belakang rumah, langsung mengambil pacul dan menggali lubang. Sudah hampir satu jam, Dian masih terus menggali dan terus menggali. Galian yang dilakukan Dian sudah sangat dalam, bahkan saking dalamnya, kepala Dian pun sudah tak terlihat lagi. Yang muncul kepermukaan hanyalah tanah dari hasil galiannya.   Mengapa Dian menggali lubang? Tetangga tak ada yang tahu karena rumah Dian dikelilingi tembok. Rumah yang sangat kecil itu, terdiri dari kamar tidur dan toilet dan sedikit pekarangan di belakang.   Anehnya, Dian tak kunjung lapar. Pada hal Dian sud...

Merah Putih Vs Covid

 Karya: Erwin Hartono Berkibar tinggi benderaku sebuah simbol kemerdekaan yang sudah 75 tahun mengibari Indonesia mengibari semangat kebangsaan mengibari harga diri yang harus dibawa mati sebagai bukti ketangguhan pahlawan dengan senjata pas-pasan berhadap hadapan pun tak gentar walau pelor-pelor dilontar takkan mundur sejengkal pun hanya bermodal semangat untuk menyayat sayat setiap musuh walau dengan golok tumpul tak jadi penghalang  Kini bangsaku kembali dijajah musuh tak terlihat satu-satu rebah tanpa nyawa satu-satu tertular covid-19 mengganas menghantam pertahanan diri haruskah kita menyerah ? untuk menurunkan kegagahan sang saka merah putih kini bangsaku harus diselamatkan biarlah merah putih terus berkibar untuk mengusir penjajahan covid-19.         Pekanbaru, 18 Agustus 2020

Aksara yang Bernanah

Karya: Erwin Hartono   (Sumber foto: Animasi google) Gejolak rasa di dada terbuncah keluar bagai air tanpa selang mengenai dahi kami membasahi jidat kami membanjiri muka kami tak tahu diri dengan arahan pikiran tanpa kendali dan data butakan mata hati benci tapi mau mau tapi benci benci tapi mau mau tapi benci   benci mau-mau mau benci benci benci mau-mau mau benci benci....   engkau kata-katai setiap kebijakan engkau nodai setiap tindakan engkau kotori setiap perbuatan demi sebuah penghargaan untuk disemat simbol-simbol perjuangan demi sebuah jasa, itu katamu demi sebuah pengabdian, itu katamu demi sebuah buah aksaramu yang sudah bernanah.                                         Pekanbaru, 14 Agustus 2020    

Online Vs Tuhan

{Karya: Erwin Hartono} Ketika jaringan itu dihantam badai haruskah kita kehilangan hidup grasak grusuk tak tentu padahal kita masih bisa hidup tanpa dihantui jaringan aneh, zaman aneh jaringan sudah berganti makanan pokok jaringan sudah berganti oksigen jaringan sudah berganti darah kehidupan aneh, zaman aneh ketika kehilangan jaringan banyak yang hampir mati pada hal jaringan membuat mati rasa jaringan membuat tak peduli jaringan mengacau keluarga jaringan merusak anak jaringan merusak saku jaringan merusak moral jaringan merusak sendi kehidupan haruskah kita dewakan jaringan online bagai Tuhan  bagai persembahan bagai kidung pujian tanpanya, seolah dunia lenyap sepertinya perlu ada virus baru untuk menyejukkan alam sejenak dari segala jaringan.                                         Pekanbaru, 12 Agustus 2020

"Koran Pembawa Maut"

 Karya: Erwin Hartono                                            (Ilustrasi: animasi google) Badannya yang tambun tidak menjadikan Dadang malas dan hilang kegesitan. Tanpa komando pagi itu, dia sudah teriak-teriak dan mondar mandir dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Bak seorang polisi lalu lintas atau seorang preman jalanan tidak mengenal takut tergilas oleh roda-roda kendaraan yang setiap saat siap melahap badannya yang tambun itu.  Dia tidak menghiraukan pengendara yang berhilir mudik dihadapannya, sambil sesekali suara klakson yang memecahkan gendang telinga. Tanpa bergeming dari klakson yang memekakkan itu, dia menawarkan koran di tangannya sambil mempertontonkan tingkah polah yang tambun, dengan sedikit bergoyang-goyang, seperti tarian Inul penggebor aspal. Para pengendara sudah terbiasa melihat hal semacam itu setiap harinya di persimpangan Jalan Sudirman. Na...