Langsung ke konten utama

Postingan

Merdeka di Atas Puing Luka

(Karya: Erwin Hartono) Lama aku termenung di bawah bendera merah putih kuteringat akan tetesan darah pejuang yang telah membasahi bumi pertiwi Lama aku termenung melihat orang-orang pada gila berteriak merdeka-merdeka-merdeka benarkah merdeka sementara di bawah sang saka merah putih terlihat penjajahan di tumpukan sampah sekadar untuk membeli beras hari ini sampah jadi pilihan mengais rezeki Lama aku termenung di bawah sang saka merah putih orang-orang berdasi itu bagai penjajah belanda zaman ini mengumpul upeti dari pajak rakyat di korupsi untuk harga diri Lama aku termenung menatap tiang kayu yang makin lapuk merah putih berkibar kusam dan mengaduh ditiup angin malam yang penuh nestapa menyaksikan janji-janji manis yang meluap sia-sia Lama aku termenung melihat gedung-gedung tinggi menjulang menutup langit malam kaum yang terbuang di baliknya ada tangis yang terbungkam oleh bising mesin dan ketakutan yang mendalam Lama aku termenung di mana letak keadilan yang dahulu digagas saat huk...
Postingan terbaru

Asal Usul Jalan Durian

  Novel: Legenda dari Labuh Baru Timur (Karya: Erwin Hartono) BAGIAN I Negeri Rawa yang Menyimpan Rahasia Tahun 1975. Mentari pagi baru saja muncul dari balik kabut yang menyelimuti hamparan rawa di sebelah barat Kota Pekanbaru. Pada masa itu, kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Labuh Baru Timur, Kecamatan Payung Sekaki , belum dipenuhi rumah-rumah beton maupun jalan beraspal. Di mana-mana hanya terlihat rawa yang luas, semak belukar, pohon gelam, pohon nibung, rotan liar, dan aliran air berwarna kecokelatan yang berkelok-kelok seperti ular raksasa. Bila musim hujan tiba, air akan meluap. Jalan setapak yang dibuat warga hilang ditelan banjir. Orang-orang lebih sering menggunakan sampan daripada berjalan kaki. Di tepi sebuah rawa berdirilah rumah panggung sederhana milik Erwin dan istrinya, Ayu . Rumah itu terbuat dari papan meranti dengan atap rumbia. Di bawah rumah, air rawa mengalir tenang. "Alvaro... Alvari... bangun. Matahari sudah tinggi,...