Gawai canggih kini telah menjelma menjadi berhala modern yang dipuja setiap waktu oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Di sudut-sudut kota hingga pelosok desa, layar pemancar cahaya visual itu sukses menyedot perhatian manusia tanpa henti. Buku-buku cetak yang dahulu menjadi primadona, kini tampak berdebu dan terabaikan di pojok perpustakaan. Melihat keprihatinan ini, seorang pustakawan keliling bernama tatang (45) memilih untuk tidak tinggal diam. Dengan sepeda tua yang batuk-batuk saat menanjak jalanan berbukit, ia konsisten mengantarkan buku ke desa-desa terpencil. Usahanya yang tanpa pamrih ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa. "Saya tidak ingin anak-anak di pelosok kehilangan mimpi hanya karena mereka tidak memiliki akses terhadap buku bacaan yang bermutu," ujar Tatang. Tantangan yang dihadapi Tatang tentu tidaklah mudah, terutama dalam bersaing dengan daya tarik internet. Kehadiran ponsel pintar sering kali membuat anak-ana...
Penyebaran informasi yang begitu cepat di media sosial sering kali menjadi pisau bermata dua bagi generasi muda. Di satu sisi, teknologi mempermudah komunikasi, namun di sisi lain, ia memicu tekanan sosial yang tinggi. Seorang psikolog klinis, Dr. Nirwana, mengungkapkan kekhawatirannya dalam sebuah seminar daring baru-baru ini. "Banyak remaja mengalami kecemasan akut hanya karena membandingkan kehidupan nyata mereka dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial," ujarnya. Fenomena ini lambat laun mengikis rasa percaya diri dan memicu gangguan kesehatan mental jika tidak disikapi dengan bijak. Langkah awal untuk mengatasi dampak negatif ini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Peran orang tua sangat krusial dalam membatasi waktu layar (screen time) anak-anak mereka dan membangun komunikasi yang sehat. Seorang ibu rumah tangga asal Jakarta, Rina (38), membagikan metodenya dalam mendidik anak di era gawai. "Saya selalu menerapkan aturan tanpa p...