Langsung ke konten utama

Asal Usul Jalan Durian

 

Novel: Legenda dari Labuh Baru Timur

(Karya: Erwin Hartono)

BAGIAN I

Negeri Rawa yang Menyimpan Rahasia

Tahun 1975.

Mentari pagi baru saja muncul dari balik kabut yang menyelimuti hamparan rawa di sebelah barat Kota Pekanbaru. Pada masa itu, kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Labuh Baru Timur, Kecamatan Payung Sekaki, belum dipenuhi rumah-rumah beton maupun jalan beraspal. Di mana-mana hanya terlihat rawa yang luas, semak belukar, pohon gelam, pohon nibung, rotan liar, dan aliran air berwarna kecokelatan yang berkelok-kelok seperti ular raksasa.

Bila musim hujan tiba, air akan meluap. Jalan setapak yang dibuat warga hilang ditelan banjir. Orang-orang lebih sering menggunakan sampan daripada berjalan kaki.

Di tepi sebuah rawa berdirilah rumah panggung sederhana milik Erwin dan istrinya, Ayu. Rumah itu terbuat dari papan meranti dengan atap rumbia. Di bawah rumah, air rawa mengalir tenang.

"Alvaro... Alvari... bangun. Matahari sudah tinggi," panggil Ayu dari dapur.

Dua anak lelaki segera keluar dari kamar.

Alvaro, sang kakak, terkenal pemberani. Ia senang menjelajah hutan dan rawa. Tidak ada tempat yang membuatnya takut.

Berbeda dengan Alvari.

Tubuhnya lebih kecil, tetapi pikirannya tajam. Ia selalu memperhatikan arah matahari, aliran air, bahkan suara burung.

Erwin sering berkata,

"Kalau Alvaro adalah keberanian, maka Alvari adalah kebijaksanaan. Kalian akan menjadi pasangan penjelajah yang hebat."

Pagi itu, Erwin sedang memperbaiki sampannya.

"Sebentar lagi musim hujan besar," katanya.

"Kalau begitu banjir lagi, Yah?" tanya Alvari.

Erwin mengangguk.

"Bahkan lebih besar daripada tahun lalu."

Ucapan itu ternyata menjadi awal sebuah petualangan yang tak pernah mereka bayangkan.


Cerita Tentang Pohon Durian

Sore harinya anak-anak berkumpul di balai kecil dekat lapangan RT.

Ada Dame.

Ada Rina.

Ada Juniar.

Ada Samuel.

Ada Yudas.

Ada Yakobus.

Dan Elia.

Mereka sering bermain bersama sejak kecil.

Saat matahari mulai tenggelam, datanglah seorang kakek tua bernama Pak Kasman.

Wajahnya dipenuhi keriput.

Namun suaranya masih lantang.

"Apakah kalian tahu mengapa rawa di sebelah barat tidak pernah dijelajahi orang?"

Semua menggeleng.

Pak Kasman tersenyum.

"Dahulu... sebelum kampung ini ada... konon terdapat sebuah pohon durian yang sangat besar."

"Durian?" seru Dame.

"Benar."

"Pohon itu berdiri di tanah yang tidak pernah tenggelam."

"Konon siapa yang menemukan pohon itu akan menemukan jalan menuju daratan yang aman."

Alvaro langsung berbinar.

"Kalau begitu besok kita cari!"

Pak Kasman tertawa pelan.

"Banyak orang sudah mencoba."

"Tidak ada yang berhasil."

Alvari justru diam.

Ia memperhatikan wajah Pak Kasman.

"Kek... apakah Kakek pernah melihat pohon itu?"

Pak Kasman menatap jauh ke arah rawa.

"Pernah..."

"Tapi waktu itu aku masih seusiamu."

"Sesudah banjir besar, jalan menuju pohon itu hilang."

Malam itu Alvaro tidak bisa tidur.

Pikirannya hanya satu.

Menemukan pohon durian.

 

Bagian II – Ekspedisi ke Negeri Rawa

Ekspedisi Dimulai

Fajar baru saja menyingsing ketika ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Kabut putih masih menggantung di atas rawa-rawa Labuh Baru Timur. Udara pagi terasa sejuk, hanya suara burung dan percikan ikan di permukaan air yang memecah kesunyian.

Di rumah panggungnya, Alvaro sudah bersiap sejak subuh. Sebilah parang kecil terselip di pinggangnya. Di bahunya tergantung tas anyaman rotan berisi bekal.

"Ayo, Vari! Jangan lama-lama!" serunya.

Alvari keluar sambil membawa kompas tua pemberian ayahnya.

"Ayah bilang kita harus pulang sebelum matahari tenggelam."

Alvaro tersenyum.

"Kalau kita menemukan pohon durian itu, kita pasti pulang membawa cerita."

Tak lama kemudian Dame, Rina, Juniar, Samuel, Yudas, Yakobus, dan Elia datang berkumpul di halaman rumah.

Erwin memandang mereka satu per satu.

"Kalian boleh pergi, tetapi ada syarat."

"Apa, Yah?" tanya Alvari.

"Jangan berpisah. Jangan melawan arus sungai. Kalau hujan turun, segera cari tempat tinggi."

Semua mengangguk.

Ayu membagikan bekal berupa nasi, ikan asin, telur rebus, dan air minum.

"Semoga Tuhan menjaga kalian," katanya sambil mengusap kepala kedua anaknya.

Dengan sebuah sampan kayu kecil, delapan anak itu mulai menyusuri rawa.

Semakin jauh mereka mendayung, semakin sunyi suasana.

Pohon-pohon gelam menjulang tinggi. Akar-akar bakau kecil mencengkeram lumpur hitam. Burung bangau beterbangan ketika sampan mereka melintas.

"Indah sekali..." bisik Rina.

Samuel menunjuk ke kejauhan.

"Lihat! Ada rusa!"

Seekor rusa kecil berlari melintasi tanah yang agak tinggi lalu menghilang di balik semak.

Semua terpukau.

Belum pernah mereka masuk sedalam itu ke kawasan rawa.


Banjir Datang Lebih Cepat

Menjelang siang, langit mulai berubah.

Awan hitam berkumpul dari arah barat.

Angin bertiup semakin kencang.

"Aku tidak suka awan itu," kata Alvari.

Belum sempat Alvaro menjawab, terdengar suara petir menggelegar.

GRAAAAR!

Hujan turun begitu deras.

Air rawa naik sangat cepat.

Arus mulai menggoyangkan sampan mereka.

"Dame! Pegang dayung!" teriak Juniar.

Sampan berputar-putar.

Yakobus hampir terjatuh ke air.

Elia segera menarik lengannya.

"Pegang kuat-kuat!"

Hujan semakin deras.

Tiba-tiba...

BRAK!

Batang pohon tumbang tepat di depan sampan.

Sampan menghantam batang itu.

Semua anak tercebur ke air.

"Alvari!" teriak Alvaro.

Adiknya hanyut beberapa meter.

Tanpa berpikir panjang, Alvaro berenang mengejar.

Air rawa keruh.

Arusnya deras.

Alvari berusaha menggapai akar pohon, tetapi tidak berhasil.

Alvaro akhirnya berhasil meraih tangan adiknya.

"Pegang aku!"

Dengan susah payah mereka berenang menuju tanah yang agak tinggi.

Satu demi satu teman-temannya juga berhasil menyelamatkan diri.

Semua basah kuyup.

Napas mereka tersengal.

"Apa kita pulang saja?" tanya Rina dengan suara gemetar.

Alvaro memandang langit.

Kemudian berkata pelan,

"Tidak."

"Kita sudah sejauh ini."

"Tetapi kita harus mencari tempat aman dulu."


Di tengah hujan yang mulai reda, Alvari memperhatikan sesuatu.

"Kak..."

"Itu apa?"

Semua menoleh.

Di kejauhan, tampak sebuah tempat yang lebih tinggi daripada rawa di sekitarnya.

Di atasnya berdiri sebuah pohon yang sangat besar.

Batangnya hampir tidak bisa dipeluk oleh tiga orang dewasa.

Daunnya lebat.

Cabangnya menjulang ke langit.

Ketika angin bertiup, aroma harum yang sangat khas menyebar ke udara.

Juniar membelalakkan mata.

"Itu... bau durian!"

Alvaro tersenyum lebar.

"Mungkinkah..."

"Pohon durian yang diceritakan Pak Kasman?"

Tak seorang pun menjawab.

Mereka saling berpandangan.

Dengan langkah perlahan, delapan sahabat itu berjalan menuju pohon raksasa tersebut.

Mereka belum tahu..... bahwa di bawah pohon itulah rahasia terbesar Labuh Baru Timur selama puluhan tahun sedang menunggu untuk ditemukan.

 

Bagian III – Pohon Durian Sang Penjaga Rahasia

Pohon yang Tak Pernah Tenggelam

Hujan mulai reda. Awan hitam perlahan bergeser, berganti dengan cahaya matahari sore yang menembus sela-sela pepohonan. Delapan anak itu berjalan perlahan menuju pohon raksasa yang berdiri kokoh di tengah rawa.

Semakin dekat mereka melangkah, semakin terasa harum khas buah durian.

"Benar... ini pohon durian!" seru Dame penuh kagum.

Batang pohon itu begitu besar hingga enam anak bergandengan tangan pun belum mampu melingkarinya. Akar-akarnya mencengkeram tanah yang lebih tinggi daripada rawa di sekelilingnya. Anehnya, walaupun air banjir masih menggenang di mana-mana, tanah di sekitar pohon tetap kering.

Alvari berjongkok sambil menyentuh tanah.

"Aneh sekali. Tanah ini padat, bukan lumpur."

Samuel menunjuk ke atas.

"Lihat!"

Di dahan-dahan pohon bergelantungan puluhan buah durian tua. Sebagian sudah jatuh dan pecah, mengeluarkan aroma yang memenuhi udara.

Yudas berbisik,

"Mungkin inilah pohon yang diceritakan Pak Kasman."

Mereka duduk beristirahat di bawah pohon itu sambil menikmati bekal yang mulai dingin.

Tiba-tiba angin berembus pelan.

Daun-daun pohon bergesekan mengeluarkan suara seperti bisikan.

Rina merinding.

"Aku seperti mendengar seseorang memanggil."

Alvaro berdiri.

"Jangan takut. Mungkin hanya suara angin."

Namun Alvari justru memperhatikan sesuatu di balik batang pohon.

Ada sebuah batu besar yang tertutup lumut.

"Teman-teman... kemari!"

Semua segera berkumpul.

Setelah lumut dibersihkan, tampak ukiran yang hampir hilang dimakan usia.

Ukiran itu berbentuk anak panah yang mengarah ke barat.

Di bawahnya terdapat tulisan tua yang sulit dibaca.

Erwin pernah mengajarkan Alvari membaca huruf Melayu lama.

Dengan perlahan ia mengeja,

"...Ikutilah jalan yang ditunjukkan durian... maka engkau akan menemukan daratan..."

Semua terdiam.

Pak Kasman ternyata tidak mengarang cerita.

Legenda itu benar-benar pernah ada.


Jalan yang Hilang

Keesokan paginya, setelah bermalam di bawah pohon durian, mereka mulai mencari jalan yang dimaksud batu penunjuk itu.

Alvaro berjalan paling depan.

Parang kecil di tangannya menebas ilalang yang hampir setinggi orang dewasa.

Tak lama kemudian Yakobus berteriak,

"Aku menemukan sesuatu!"

Di balik semak terlihat susunan batu pipih yang tertata rapi.

"Itu bukan batu biasa," kata Alvari.

"Itu bekas jalan!"

Semangat mereka kembali berkobar.

Mereka bekerja sama membersihkan semak.

Samuel dan Juniar menebang ranting.

Elia mengumpulkan kayu.

Rina dan Dame menyingkirkan dedaunan.

Sedikit demi sedikit jalur itu mulai terlihat.

Lebarnya hampir dua meter.

Batu-batunya masih utuh meski tertutup akar.

"Ayah pernah bilang, jalan seperti ini dibuat dengan gotong royong," ujar Alvari.

Saat mereka berjalan semakin jauh, tiba-tiba terdengar suara mendesis.

"Ssssttt..."

Seekor ular sanca besar melintang di tengah jalan.

Semua berhenti.

Rina memegang lengan Dame.

Alvaro mengangkat tangan.

"Jangan bergerak."

Mereka berdiri diam.

Beberapa saat kemudian ular itu perlahan masuk kembali ke semak.

Semua menghela napas lega.

Belum selesai rasa takut itu hilang, tanah di depan mereka tiba-tiba ambles.

"Alvari!" teriak Samuel.

Dengan sigap Alvaro menarik tangan adiknya sebelum terperosok ke lubang lumpur.

"Terima kasih, Kak."

Alvaro tersenyum.

"Kita pulang harus lengkap."

Perjalanan kembali dilanjutkan.

Mereka mulai melihat tanda-tanda kehidupan.

Bekas pagar.

Batang kelapa yang sudah tua.

Sisa pondasi rumah kayu yang hampir tertutup semak.

"Berarti dahulu pernah ada kampung di sini," kata Elia.

Alvari mengangguk.

"Mungkin kampung itu ditinggalkan ketika banjir besar datang."

Saat matahari mulai condong ke barat, semak-semak di depan mereka semakin tipis.

Tiba-tiba...

"Cahaya!" seru Dame.

Mereka berlari.

Di hadapan mereka terbentang tanah yang luas, keras, dan kering.

Di kejauhan tampak beberapa rumah penduduk.

Asap dapur mengepul ke langit.

Mereka berhasil menemukan jalan keluar dari rawa.

Semua saling berpelukan dengan gembira.

Tanpa mereka sadari, jalan yang mereka temukan itu kelak akan menjadi jalan penting bagi banyak orang.

Dan pohon durian tua itu akan selalu dikenang sebagai penunjuk arah yang menyelamatkan siapa saja yang tersesat di tengah rawa.

Namun perjalanan mereka belum selesai.

Masih ada tugas besar menanti: mengajak seluruh warga membuka kembali jalan yang telah lama hilang itu.

 

Bagian IV – Gotong Royong Membangun Jalan Durian

Kabar yang Menggemparkan Kampung

Menjelang senja, Alvaro, Alvari, Dame, Rina, Juniar, Samuel, Yudas, Yakobus, dan Elia akhirnya tiba kembali di kampung. Wajah mereka penuh lumpur, pakaian basah, tetapi mata mereka berbinar-binar.

Di halaman rumah, Ayu yang sejak siang gelisah menunggu langsung memeluk kedua anaknya.

"Puji Tuhan... kalian selamat!"

Erwin yang baru pulang dari kebun memandang mereka dengan heran.

"Kalian dari mana? Semua orang mencari kalian sejak siang."

Alvaro menarik napas panjang.

"Yah... kami menemukan sesuatu."

"Apa itu?"

"Jalan."

Semua orang yang berkumpul saling berpandangan.

Alvari kemudian menceritakan semuanya—tentang pohon durian raksasa yang tidak pernah tergenang banjir, batu tua bertuliskan petunjuk, jalan batu yang tertutup semak, bekas permukiman lama, hingga jalan keluar menuju dataran yang lebih tinggi.

Malam itu hampir seluruh warga berkumpul di balai kampung. Ada yang percaya, ada pula yang menganggap cerita itu hanyalah khayalan anak-anak.

Namun Pak Kasman, yang sejak awal menceritakan legenda pohon durian, berdiri sambil berkata,

"Aku percaya kepada mereka. Apa yang mereka lihat sama dengan cerita yang pernah kudengar dari orang tuaku puluhan tahun lalu."

Suasana balai menjadi hening.

Erwin kemudian berkata dengan mantap,

"Kalau memang benar ada jalan itu, besok pagi kita buktikan bersama."

Semua warga menyambut usul itu.


Jalan yang Dibuka Kembali

Keesokan harinya, puluhan warga berangkat bersama. Mereka membawa parang, cangkul, kapak, tali rotan, dan bekal makanan. Kaum ibu, termasuk Ayu, memasak nasi, gulai ikan sungai, serta sayur untuk para pekerja.

Alvaro dan Alvari berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan.

Sesampainya di pohon durian raksasa, semua warga tertegun.

"Itu benar-benar pohon durian!" seru seorang warga.

Pak Kasman menatap pohon itu dengan mata berkaca-kaca.

"Setelah puluhan tahun... akhirnya aku melihatnya lagi."

Tanpa membuang waktu, pekerjaan dimulai.

Suara parang beradu dengan semak-semak.

Kapak memotong batang kayu yang tumbang.

Anak-anak mengangkat ranting-ranting kecil, sementara para pemuda menggali saluran air agar jalan tidak mudah tergenang.

Hari demi hari mereka bekerja dengan semangat gotong royong.

Alvari mengusulkan agar saluran air dibuat di sisi jalan agar air rawa mengalir dengan baik ketika hujan turun. Erwin memuji kecerdikannya dan para warga mengikuti usul itu.

Beberapa minggu kemudian, jalur yang dulu tertutup semak kini telah berubah menjadi jalan tanah yang lebar. Orang-orang dapat melaluinya tanpa harus memutar jauh atau menggunakan sampan.

Jalan itu menjadi penghubung penting antara permukiman warga dan lahan perkebunan.

Suatu sore, seluruh warga berkumpul di bawah pohon durian raksasa.

"Kita harus memberi nama jalan ini," kata Pak Kasman.

Berbagai usul pun bermunculan.

"Jalan Rawa!"

"Jalan Harapan!"

"Jalan Gotong Royong!"

Namun Erwin tersenyum sambil menunjuk pohon besar yang berdiri kokoh.

"Kalau bukan karena pohon durian ini, anak-anak kita tidak akan pernah menemukan jalan tersebut."

Semua mengangguk setuju.

Pak Kasman mengangkat tangannya.

"Mulai hari ini, jalan ini kita namakan Jalan Durian."

Tepuk tangan dan sorak-sorai pun bergema.

Pohon durian itu tidak ditebang. Warga sepakat menjaganya sebagai penanda sejarah dan lambang persatuan.

Tahun demi tahun berlalu.

Rawa-rawa perlahan berubah menjadi permukiman. Jalan tanah diperkeras, lalu berkembang menjadi jalan yang ramai dilalui masyarakat. Pohon durian tua akhirnya tumbang karena usia, tetapi nama Jalan Durian tetap melekat hingga sekarang sebagai pengingat akan keberanian Alvaro, kecerdikan Alvari, dan semangat gotong royong seluruh warga.

Kini, setiap kali anak-anak melintasi Jalan Durian di Kelurahan Labuh Baru Timur, mereka sering mendengar kisah tentang dua kakak beradik yang berani menjelajahi rawa demi mencari jalan bagi kampung mereka.

Entah kisah itu benar-benar pernah terjadi atau hanya sebuah legenda, tak seorang pun dapat memastikan. Namun, masyarakat percaya bahwa setiap nama tempat menyimpan cerita, dan setiap cerita mengajarkan bahwa keberanian, kebijaksanaan, persatuan, dan gotong royong mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Tamat.

 

Erwin Hartono: Seniman Riau yang tunak bersastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi telah diterbitkan, menjadi editor sejumlah buku, dan aktif menulis cerpen dan puisi yang tersebar di sejumlah media cetak: Riau pos, Majalah Sagang, Metro Riau, Haluan Riau, Harian Detik, Bahana Mahasiswa Unri dan sejumlah media online. Saat ini selain menjadi guru, aktif sebagai wartawan nadariau.com dan alvariau.com, serta sebagai Humas dibeberapa organisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru