Cerpen SainsKarya: Erwin Hartono
Bagian 1: Hari Ketika Waktu Mati
Bunyi sirene global raung-meraung membelah langit malam Sumatra yang pekat. Detik itu, jam dinding digital di ruang tamu Alvaro (17 tahun) dan adiknya, Alvari (11 tahun), menunjukkan pukul 21.00 WIB. Namun, jarum jam tak lagi berarti. Di luar, langit malam mendadak memerah darah. Sebuah meteor masif—yang kemudian dinamai Hypnos—menghantam belahan bumi barat dengan kecepatan hipersonik, tepat dari arah yang berlawanan dengan rotasi bumi.
Hantaman itu tidak menghancurkan kerak bumi menjadi serpihan, tetapi energinya cukup untuk melakukan satu hal yang mustahil: mengerem putaran bumi hingga berhenti total dalam hitungan menit.
"Alvaro! Pegangan!" teriak Alvari histeris.
Efek inersia langsung menghajar mereka. Tubuh kedua remaja itu terlempar dahsyat ke arah timur, menghantam dinding rumah. Di luar, suara gemuruh maut terdengar. Angin badai supersonik berkecepatan lebih dari 1.500 km/jam menyapu permukaan bumi. Rumah-rumah roboh, pohon-pohon tercabut, dan lautan mendadak tumpah. Air Laut Banda dan Samudra Hindia terhempas hebat, meluncur ke utara dan selatan mencari kutub bumi, meninggalkan daratan yang tersedot kosong.
Alvaro, dengan kepala berdarah, memeluk erat Alvari di sudut ruangan yang diperkuat tiang beton. Di luar, dunia seolah sedang diblender oleh kemarahan kosmis. "Ibu! Ayah!" jerit Alvari di sela-sela gemuruh angin yang memekakkan telinga.
Orang tua mereka, Erwin dan Ayu, malam itu sedang berada di fasilitas bunker laboratorium botani bawah tanah di pinggiran kota. Jaraknya lima kilometer dari rumah. Ketika badai angin meratakan permukaan, bunker beton yang tertanam dua puluh meter di dalam tanah itu berguncang hebat seperti diguncang gempa berkekuatan 10 SR.
Erwin, seorang ahli geologi, dan Ayu, seorang botanis, langsung mengunci sistem hidrolik kedap udara begitu menyadari atmosfer di atas mereka sedang terkoyak. Tindakan cepat inilah yang menyelamatkan mereka dari kematian instan akibat angin badai supersonik dan perpindahan atmosfer. Namun, mereka terjebak di bawah tanah, terpisah dari anak-anak mereka.
Bagian 2: Terdampar di Dunia yang Asing
Tiga bulan berlalu sejak The Great Stop. Alvaro dan Alvari berhasil selamat secara keajaiban murni; rumah beton mereka runtuh membentuk rongga segitiga yang melindungi mereka dari badai awal. Setelah angin mereda, dunia yang mereka kenal telah lenyap.
Tidak ada lagi pemandangan laut biru Sumatra. Yang ada di hadapan mereka adalah bentangan sabuk daratan raksasa yang gersang, cokelat, dan penuh batu karang yang dulu terkubur di dasar laut. Selat Malaka telah mengering menjadi lembah retak-retak.
Kondisi atmosfer sangat menyiksa. "Kak, dadaku sesak sekali..." keluh Alvari, wajahnya pucat.
"Pakai masker oksigennya, Vari. Hemat energi," bisik Alvaro, memapah adiknya. Atmosfer bumi telah bermigrasi ke kutub, menyisakan udara yang sangat tipis di wilayah khatulistiwa ini. Berjalan di eks-Indonesia kini rasanya seperti mendaki puncak Everest setiap hari.
Yang lebih mengerikan adalah siklus hari. Matahari tidak lagi terbit dan tenggelam setiap 24 jam. Bumi kini butuh waktu satu tahun penuh untuk mengelilingi matahari dalam kondisi diam. Artinya, Alvaro dan Alvari harus bertahan dalam 6 bulan siang hari yang membakar tanpa henti. Suhu udara melonjak hingga 50 derajat Celsius. Tanah membara, dan air menjadi komoditas paling berharga dari sisa-sisa embun bawah tanah.
Mereka berjalan terseok-seok menelusuri bekas daratan baru, berbekal ransel berisi sisa makanan kaleng dan tabung oksigen portabel yang mereka jarah dari reruntuhan rumah sakit.
"Kita harus cari Ayah dan Ibu, Vari. Bunker laboratorium itu ke arah barat," kata Alvaro menguatkan adiknya, meski kakinya sendiri sudah melepuh.
Bagian 3: Reuni di Dasar Bumi
Setelah berminggu-minggu berjalan di bawah matahari yang tak pernah berkedip, mereka tiba di wilayah laboratorium botani yang telah runtuh menjadi tumpukan puing raksasa. Alvaro nyaris putus asa. Namun, Alvari melihat sesuatu: sebuah pipa besi mencuat dari sela batu, dan dari dalam pipa itu terdengar ketukan berirama.
Tok... tok... tok...
Alvaro mengambil batu dan membalas ketukan itu. Dengan sisa tenaga yang ada, kedua bersaudara itu menyingkirkan batu-batu hancur hingga menemukan palka besi bertuliskan "Bunker B-12".
Dengan bunyi berderit berat, palka itu terbuka dari dalam. Sesosok pria dengan dua lesung pipit dan wanita berwajah letih namun penuh air mata muncul.
"Alvaro? Alvari?!" jerit Ayu, sang ibu, langsung menghambur memeluk kedua anaknya. Erwin menyusul, mendekap erat seluruh keluarganya. Di dalam bunker yang ditenagai generator geotermal itu, Erwin dan Ayu berhasil bertahan hidup dengan menyaring air tanah dan mengonsumsi tanaman hidroponik darurat.
Reuni dramatis itu terjadi di tengah dunia yang mati. Namun, di dalam bunker tersebut, Ayu memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan. Sebuah tangki kaca berisi puluhan tunas pohon aneh berdaun hijau pekat memancarkan cahaya neon tipis.
"Ini 'Pohon Anak'," kata Ayu dengan binar harapan di matanya.
"Hasil rekayasa genetika yang kami kerjakan sebelum bencana. Pohon ini tidak butuh banyak air, tahan suhu ekstrem, dan yang terpenting: mereka memproduksi oksigen murni lima kali lebih banyak dari pohon biasa melalui fotosintesis buatan."
Bagian 4: Pertemuan Antar-Belahan Bumi
Keluarga itu memutuskan keluar dari bunker. Dengan pengetahuan Erwin tentang jalur geologi baru dan keahlian botani Ayu, mereka mulai mendirikan perkemahan di sebuah lembah eks-dasar laut yang agak terlindung dari angin matahari.
Satu bulan kemudian, saat mereka sedang menanam gelombang pertama Pohon Anak, sebuah kendaraan penjelajah roda rantai besar yang aneh mendekat dari arah barat laut. Alvaro langsung bersiaga memegang besi tajam.
Kendaraan itu berhenti. Pintu terbuka, mengeluarkan beberapa orang dengan pakaian pelindung tebal. Ketika mereka membuka helm, wajah-wajah asing berwajah kaukasia (ras manusia) dan afrika terlihat. Mereka adalah kelompok penyintas yang dipimpin oleh Dr. Marcus, seorang peneliti dari belahan bumi barat yang berhasil bermigrasi ke sabuk khatulistiwa menggunakan kendaraan militer tahan badai.
"Kami mendeteksi lonjakan kadar oksigen yang tidak biasa dari satelit cuaca kuno yang masih berfungsi," kata Marcus dalam bahasa Inggris yang terbata-bata karena lelah.
"Kami datang dari wilayah eks-Eropa yang sekarang terendam lautan kutub. Kami mencari daratan yang bisa ditinggali."
Pertemuan itu mengharukan. Manusia dari berbagai belahan bumi yang terpisah kini dipersatukan oleh takdir baru di sabuk khatulistiwa yang gersang. Mereka tidak lagi berperang berebut wilayah, karena wilayah baru ini terlalu luas dan terlalu kosong. Mereka butuh satu sama lain untuk bertahan hidup.
Bagian 5: Harapan yang Bertunas
Tahun-tahun berlalu di Bumi yang baru. Siklus enam bulan siang berganti menjadi enam bulan malam yang membeku. Namun, manusia telah beradaptasi.
Lembah tempat keluarga Alvaro tinggal kini telah berubah menjadi koloni besar bernama Aethelgard (benteng yang mulia). Ribuan penyintas dari berbagai negara berkumpul di sana. Mereka membangun rumah-rumah bawah tanah untuk berlindung saat musim malam beku tiba, dan keluar ke permukaan saat musim siang datang.
Proyek utama koloni ini adalah "Hutan Oksigen". Alvaro, yang kini telah beranjak dewasa, memimpin tim penjelajah bersama adiknya, Alvari. Tugas mereka adalah menanam tunas-tunas Pohon Anak yang terus dikembangbiakkan oleh Ibu Ayu di sepanjang sabuk khatulistiwa.
Di bawah langit khatulistiwa yang kini mulai berwarna biru muda lembut—bukan lagi merah atau hitam kelam—Alvaro memandang sejauh mata memandang. Jutaan Pohon Anak telah tumbuh, membentuk kanopi hijau raksasa. Daun-daun mereka melambai ditiup angin lembut, melepaskan miliaran molekul oksigen ke atmosfer yang perlahan-lahan mulai menebal dan stabil.
Alvari berjalan di sebelah kaki Alvaro, tersenyum sambil membawa sekop. Di belakang mereka, Erwin dan Ayu mengawasi dengan bangga.
Bumi memang telah berhenti berputar pada porosnya, dan peta dunia telah berubah selamanya. Namun, di atas daratan baru yang unik ini, detak jantung kemanusiaan menolak untuk berhenti. Kehidupan, sekali lagi, menemukan jalannya untuk kembali tumbuh.***
Erwin Hartono: Seniman Riau yang tunak bersastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi telah diterbitkan, menjadi editor sejumlah buku, dan aktif menulis cerpen dan puisi yang tersebar di sejumlah media cetak: Riau pos, Majalah Sagang, Metro Riau, Haluan Riau, Harian Detik, Bahana Mahasiswa Unri dan sejumlah media online. Saat ini selain menjadi guru, aktif sebagai wartawan nadariau.com dan alvariau.com, serta sebagai Humas dibeberapa organisasi.

Komentar
Posting Komentar