Gawai canggih kini telah menjelma
menjadi berhala modern yang dipuja
setiap waktu oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Di sudut-sudut kota
hingga pelosok desa, layar pemancar cahaya visual itu sukses menyedot perhatian
manusia tanpa henti. Buku-buku cetak yang dahulu menjadi primadona, kini tampak
berdebu dan terabaikan di pojok perpustakaan.
Melihat
keprihatinan ini, seorang pustakawan keliling bernama tatang (45) memilih untuk
tidak tinggal diam. Dengan sepeda tua yang batuk-batuk saat menanjak jalanan berbukit, ia konsisten
mengantarkan buku ke desa-desa terpencil. Usahanya yang tanpa pamrih ini
merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa. "Saya tidak ingin anak-anak di pelosok
kehilangan mimpi hanya karena mereka tidak memiliki akses terhadap buku bacaan
yang bermutu," ujar Tatang.
Tantangan
yang dihadapi Tatang tentu tidaklah mudah, terutama dalam bersaing dengan daya
tarik internet. Kehadiran ponsel pintar sering kali membuat anak-anak enggan
menyentuh lembaran kertas. Namun, lewat pendekatan yang sabar dan kreatif, ia
perlahan mampu mengetuk hati mereka untuk kembali membaca. "Awalnya sulit sekali mengajak mereka
berkumpul, tetapi begitu dibacakan dongeng, mereka langsung berebut meminjam
buku," jelas Tatang sambil tersenyum.
Dukungan
terhadap gerakan literasi ini juga datang dari kalangan akademisi yang
menyoroti dampak jangka panjang dari rendahnya minat baca. Pikiran manusia yang jarang diasah dengan
membaca akan menjadi seluas daun kelor dalam menghadapi kompleksitas
persoalan dunia nyata. Tanpa fondasi literasi yang kuat, masyarakat akan
menjadi sangat rentan terhadap penyebaran berita bohong atau hoaks yang
menyesatkan. Seorang pengamat pendidikan pun mengingatkan, "Bangsa yang besar tidak hanya dibangun
dengan infrastruktur fisik, melainkan dengan kecerdasan berpikir
warganya."
Upaya
menghidupkan budaya literasi ini sejatinya membutuhkan pengorbanan setinggi langit dan usaha sedalam samudra dari
seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, sekolah, dan keluarga harus bersinergi
dalam menciptakan ekosistem membaca yang menyenangkan sejak dini. Kita tidak
boleh membiarkan anak-anak tumbuh dalam kekosongan literasi di tengah
melimpahnya arus informasi digital. "Mari
kita matikan gawai sejenak setiap malam dan gantikan dengan membaca buku
bersama anak-anak di rumah," ajak seorang aktivis anak dalam sebuah
kampanye nasional.

Komentar
Posting Komentar