Warga
Desa Tanjung Batu bersama kelompok pemuda peduli lingkungan berhasil menanam
10.000 bibit mangrove di sepanjang pesisir pantai utara desa pada Minggu
(12/7). Aksi nyata ini dilakukan sebagai langkah darurat untuk menahan laju
abrasi yang kian mengancam pemukiman warga, sekaligus mengembalikan fungsi
ekosistem pesisir yang sempat rusak parah.
Kerusakan lingkungan di wilayah ini sebelumnya dipicu oleh aktivitas
penebangan liar hutan bakau dan alih fungsi lahan menjadi tambak yang tidak
ramah lingkungan sejak awal tahun 2000-an. Akibat hilangnya benteng alami
tersebut, setiap kali musim angin barat tiba, gelombang tinggi dengan mudah
mengikis daratan hingga mendekati halaman rumah warga. Mengatasi hal itu,
komunitas pemuda setempat akhirnya menggalang dana swadaya dan berkolaborasi
dengan LSM lingkungan untuk mendatangkan bibit tanaman bakau.
Ketua
Pelaksana Gerakan Hijau Pesisir, Ahmad Fauzi, mengungkapkan bahwa penanaman ini
bukan sekadar seremonial belaka, melainkan awal dari komitmen pemeliharaan
jangka panjang. "Kami telah membagi tim khusus dari warga lokal untuk
memantau pertumbuhan bibit-bibit ini setiap pekannya. Jika ada tanaman yang
mati atau rusak diterjang ombak, kami segera lakukan penyulaman agar kerapatan
hutan bakau tetap terjaga," ujarnya saat ditemui di lokasi penanaman.
Selain
berfungsi sebagai penahan abrasi, wilayah konservasi mangrove baru ini nantinya
diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata berbasis edukasi
lingkungan. Warga setempat berharap, rimbunnya hutan bakau dalam tiga hingga
lima tahun ke depan dapat menarik kunjungan wisatawan dan peneliti, yang secara
otomatis akan membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM kuliner dan
kerajinan di desa tersebut.

Komentar
Posting Komentar