Gawai canggih kini telah menjelma menjadi berhala modern yang dipuja setiap waktu oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Di sudut-sudut kota hingga pelosok desa, layar pemancar cahaya visual itu sukses menyedot perhatian manusia tanpa henti. Buku-buku cetak yang dahulu menjadi primadona, kini tampak berdebu dan terabaikan di pojok perpustakaan. Melihat keprihatinan ini, seorang pustakawan keliling bernama tatang (45) memilih untuk tidak tinggal diam. Dengan sepeda tua yang batuk-batuk saat menanjak jalanan berbukit, ia konsisten mengantarkan buku ke desa-desa terpencil. Usahanya yang tanpa pamrih ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa. "Saya tidak ingin anak-anak di pelosok kehilangan mimpi hanya karena mereka tidak memiliki akses terhadap buku bacaan yang bermutu," ujar Tatang. Tantangan yang dihadapi Tatang tentu tidaklah mudah, terutama dalam bersaing dengan daya tarik internet. Kehadiran ponsel pintar sering kali membuat anak-ana...