Langsung ke konten utama

Merdeka di Atas Puing Luka

(Karya: Erwin Hartono)


Lama aku termenung

di bawah bendera merah putih

kuteringat akan tetesan darah pejuang

yang telah membasahi bumi pertiwi


Lama aku termenung

melihat orang-orang pada gila

berteriak merdeka-merdeka-merdeka

benarkah merdeka

sementara di bawah sang saka merah putih

terlihat penjajahan di tumpukan sampah

sekadar untuk membeli beras hari ini

sampah jadi pilihan mengais rezeki


Lama aku termenung

di bawah sang saka merah putih

orang-orang berdasi itu

bagai penjajah belanda zaman ini

mengumpul upeti dari pajak rakyat

di korupsi untuk harga diri


Lama aku termenung

menatap tiang kayu yang makin lapuk

merah putih berkibar kusam dan mengaduh

ditiup angin malam yang penuh nestapa

menyaksikan janji-janji manis yang meluap sia-sia


Lama aku termenung

melihat gedung-gedung tinggi menjulang

menutup langit malam kaum yang terbuang

di baliknya ada tangis yang terbungkam

oleh bising mesin dan ketakutan yang mendalam


Lama aku termenung

di mana letak keadilan yang dahulu digagas

saat hukum kini tajam ke bawah dan tumpul ke atas

rakyat kecil tercekik oleh aturan

sementara dalang kerusuhan bebas berjalan


Lama aku termenung

menyusuri lorong pasar yang kian sepi

harga-harga merangkak naik bagai belati

ibu-ibu menangis di balik dapur dingin

berharap keajaiban datang membawa angin


Lama aku termenung

menonton panggung politik yang penuh sandiwara

mereka beradu argumen demi takhta dan harta

lupa pada tumpah darah para pahlawan

yang mengorbankan nyawa tanpa mengharap imbalan


Lama aku termenung

melihat anak-anak jalanan tanpa masa depan

buku ganti dengan usang kotak pengamenan

seragam sekolah hanya jadi bayangan

di tengah megahnya gedung kementerian


Lama aku termenung

memikirkan tanah air yang makin terkikis

dijual murah pada asing hingga menangis

hutan dijarah, laut ditumpahi racun

penderitaan rakyat menumpuk bertahun-tahun


Lama aku termenung

melihat rasa persaudaraan yang kian luntur

terpecah belah oleh dogma dan rasa takabur

saling tuduh demi kepentingan sesaat

melupakan arti sejarah dan kebhinekaan yang sarat


Lama aku termenung

apakah merah putih hanya kain tanpa makna

jika penderitaan rakyat tak kunjung mereda

apakah garuda hanya lambang di dinding tua

sementara keadilan mati di depan mata


Lama aku termenung

namun haruskah kita terus diam membisu

membiarkan negeri ini hancur dimakan waktu

oleh serigala-serigala berbulu domba

yang kenyang di atas penderitaan bersama


Lama aku termenung

kini kubakar kembali semangat dalam dada

api perjuangan tak boleh padam begitu saja

kita harus bangkit merebut kembali makna

merdeka yang sejati untuk seluruh bangsa


Lama aku termenung

kini kutatap merah putih dengan keyakinan

perjuangan ini belum selesai wahai kawan

di atas puing-puing luka dan derita

suatu hari nanti, kita kan benar-benar merdeka.



Erwin Hartono: Seniman Riau yang tunak menghasilkan karya sastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi telah diterbitkan, menjadi editor sejumlah buku, dan aktif menulis cerpen dan puisi yang tersebar di sejumlah media cetak: Riau pos, Majalah Sagang, Metro Riau, Haluan Riau, Harian Detil, Bahana Mahasiswa Unri dan sejumlah media online. Saat ini selain menjadi guru, aktif sebagai wartawan nadariau.com dan alvariau.com, serta sebagai Humas di beberapa organisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru  

Idiom dan Ilustrasi Gambar

  Karya: Edriana Angela Christel Pasaribu - Kls 6A SD Kalam Kudus Pekanbaru