Langsung ke konten utama

Legenda Payung Sekaki

 


Asal Usul Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru (Cerpen Legenda, karya: Erwin Hartono)

Badai di Sungai Siak tahun 1982. Sungai Siak mengamuk. Hujan turun tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Di atas perahu kayu reyot, dua kakak beradik, Alvaro dan Alvari, terombang-ambing. Mereka bukan orang Pekanbaru. Mereka pedagang rempah dari Bengkalis yang hendak ke pasar induk.

“Pegang erat, Vari!” teriak Alvaro.

Petir menyambar. Ombak menghantam. Dalam sekejap, perahu mereka terbalik dan terseret arus deras ke arah barat daya kota.

Saat fajar, Alvaro terbangun dengan tubuh penuh lumpur. Ia terdampar di tanah becek yang dipenuhi alang-alang tinggi dan air setinggi lutut.

“Vari! Vari!” panggilnya panik.

Dari kejauhan terdengar batuk lemah. Alvari terbaring di bawah pohon gelam (Pohon Kayu Putih), kakinya terkilir. Di sekeliling mereka hanya rawa, hutan lebat, dan suara burung hantu.

Tahun 1980-an, kawasan ini memang belum bernama. Yang ada hanyalah hutan, parit-parit besar, dan jalan tanah merah yang kalau hujan jadi kubangan. Inilah cikal bakal daerah Labuh Baru hingga Soekarno-Hatta sekarang.

Malam pertama mereka hampir putus asa. Tiba-tiba muncul sesosok kakek tua bertongkat, tubuhnya kurus tapi matanya tajam. Ia mengaku bernama Datuk Sekaki. “Kalian tersesat di Tanah Payung,” katanya lirih.

“Tempat ini dilindungi. Siapa yang masuk tanpa izin, akan disesatkan.”

Datuk Sekaki menolong mengobati kaki Alvari dengan daun-daun hutan. Ia bercerita bahwa daerah ini dulunya tempat berteduh para pelancong. Kalau hujan, orang-orang menumpang berteduh di bawah pohon payung hutan yang daunnya selebar tikar.

Tiga hari kemudian, Alvaro dan Alvari mulai berjalan mencari pemukiman. Mereka menyusuri jalan tanah yang sekarang kita kenal sebagai Jalan Arengka. Belum ada aspal. Yang ada hanya jejak ban truk dan genangan.

Di sebuah parit besar, mereka melihat pemandangan aneh: puluhan anak-anak dan orang tua sedang berenang dan mencuci di parit itu sambil tertawa.

“Airnya jernih, Bang!” kata seorang bocah.

Parit-parit inilah sumber kehidupan warga saat itu. Dari sinilah nama Labuh Baru muncul, karena banyak orang “labuh” atau mandi di sini.

Belum sempat lega, langit kembali menghitam. Badai susulan datang. Angin kencang merobohkan pohon. Alvaro dan Alvari berlari mencari tempat berteduh. Mereka menemukan pohon besar berdaun lebar seperti payung. Mereka menempel di bawahnya bersama Datuk Sekaki dan beberapa warga.

“Pegang pohon ini!” teriak Datuk.

Akarnya mencengkeram tanah rawa. Pohon itu tidak tumbang. Sementara di sekitar, gubuk-gubuk warga roboh diterjang angin.

Sejak itu warga menyebut pohon itu “Payung Penolong”.

Setelah badai reda, Alvari demam tinggi. Alvaro begadang menjaganya.

“Kalau kita selamat, kita tidak akan pergi dari sini, Vari,” bisik Alvaro.

“Kita akan bangun tempat yang aman untuk orang-orang.”  Alvari mengangguk lemah.

Datuk Sekaki mendengar janji itu. Ia tersenyum.

“Kalian berdua punya hati sekaki,” katanya.

“Sekaki artinya sehati, sepemikiran, sejalan. Jarang ada orang seperti kalian.”

Dengan bantuan warga, Alvaro dan Alvari mulai membuka lahan. Mereka menebang semak, membuat jalan setapak, dan menandai tempat yang aman dari banjir. Alvaro yang kuat menjadi pengayuh tenaga. Alvari yang cerdas menjadi perencana.

Mereka mengajari warga cara membuat pematang agar parit tidak meluap ke rumah. Lama-lama, gubuk-gubuk kecil berdiri. Anak-anak tetap bermain di parit, tapi kini ada jembatan kayu dari batang kelapa.

Kedamaian tidak berlangsung lama. Sekelompok perampok yang bersembunyi di hutan rawa datang. Mereka mengancam warga dan ingin menguasai tanah.

“Pergi atau kami bakar!” teriak pemimpin mereka.

Warga ketakutan. Alvaro maju. Terjadi perkelahian di tengah lumpur. Alvari, walau masih pincang, melempar obor ke rawa kering. Api kecil menyala dan membuat perampok panik lalu kabur. Sejak malam itu, warga makin menghormati dua bersaudara itu.

“Mereka sehati sekaki dalam melindungi kita,” kata warga

Tahun 1986, Datuk Sekaki memanggil semua warga.

“Tempat ini harus punya nama,” katanya. “Agar anak cucu ingat.”

Ia menunjuk pohon payung besar tempat mereka berteduh dulu, lalu menatap Alvaro dan Alvari.

“Daerah ini kita namai PAYUNG SEKAKI. Payung karena pohon penolong itu. Sekaki karena dua pemuda ini sehati dalam membangun kampung.”

Semua warga bersorak. Nama itu pun dipakai hingga sekarang.

Bertahun-tahun kemudian, rawa-rawa dikeringkan, jalan tanah diaspal, dan parit-parit besar di Soekarno-Hatta sebagian ditutup. Tapi orang tua-tua masih bercerita tentang dua kakak beradik yang terdampar dan membangun kampung. Alvaro dan Alvari tidak pernah kembali ke Bengkalis. Mereka dimakamkan di tanah yang mereka cintai.

Hingga kini, kalau kamu lewat Kecamatan Payung Sekaki, ingatlah: di balik gedung dan ruko, dulu ada pohon payung, ada parit tempat anak-anak berenang, ada dua bersaudara yang sekaki dalam suka dan duka. Dan itulah asal usul salah satu nama kecamatan di Pekanbaru, Kecamatan Payung Sekaki.***

Erwin Hartono: Seniman Riau yang tunak bersastra. Beberapa buku kumpulan cerpen dan puisi telah diterbitkan, menjadi editor sejumlah buku, dan aktif menulis cerpen dan puisi yang tersebar di sejumlah media cetak: Riau pos, Majalah Sagang, Metro Riau, Haluan Riau, Harian Detik, Bahana Mahasiswa Unri dan sejumlah media online. Saat ini selain menjadi guru, aktif sebagai wartawan nadariau.com dan alvariau.com, serta sebagai Humas dibeberapa organisasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru  

Idiom dan Ilustrasi Gambar

  Karya: Edriana Angela Christel Pasaribu - Kls 6A SD Kalam Kudus Pekanbaru