Langsung ke konten utama

Aksara yang Bernanah


Karya: Erwin Hartono

 (Sumber foto: Animasi google)

Gejolak rasa di dada

terbuncah keluar bagai air tanpa selang

mengenai dahi kami

membasahi jidat kami

membanjiri muka kami

tak tahu diri

dengan arahan pikiran

tanpa kendali dan data

butakan mata hati

benci tapi mau

mau tapi benci

benci tapi mau

mau tapi benci

 

benci mau-mau

mau benci benci

benci mau-mau

mau benci benci....

 

engkau kata-katai

setiap kebijakan

engkau nodai

setiap tindakan

engkau kotori

setiap perbuatan

demi sebuah penghargaan

untuk disemat simbol-simbol perjuangan

demi sebuah jasa, itu katamu

demi sebuah pengabdian, itu katamu

demi sebuah buah aksaramu

yang sudah bernanah.

 

                                      Pekanbaru, 14 Agustus 2020

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru