Langsung ke konten utama

Tembok Berlin Baru Negeriku

(Karya: Erwin Hartono)

Berapa panjang lagi kisah pilu
yang menghantam nurani kemanusiaan
sementara hari semakin uzur
menapaki usia senja
sebab luka sudah terlalu lama menganga
mengeluarkan air mata dan darah

Sudahkah republik ini aman dari pertikaian
padahal tenaga kita semakin berkurang
di dalam membangun monumen kesetiaan
ikrar kebersamaan yang kerap kita bunyikan
rontok di makan hari-hari yang semakin tua

Bahkan tembok berlin baru
terbangun di wajah Indonesia
sungguh rentan persatuan itu
menunggu waktu
seberapa lama lagi
luka itu sembuh dan mengering
dari bermacam konflik
bermacam perbedaan
walau berbeda tetap satu jua.

            Pekanbaru, 14 Oktober 2019





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru