Langsung ke konten utama

Tembok Berlin Baru Negeriku

(Karya: Erwin Hartono)

Berapa panjang lagi kisah pilu
yang menghantam nurani kemanusiaan
sementara hari semakin uzur
menapaki usia senja
sebab luka sudah terlalu lama menganga
mengeluarkan air mata dan darah

Sudahkah republik ini aman dari pertikaian
padahal tenaga kita semakin berkurang
di dalam membangun monumen kesetiaan
ikrar kebersamaan yang kerap kita bunyikan
rontok di makan hari-hari yang semakin tua

Bahkan tembok berlin baru
terbangun di wajah Indonesia
sungguh rentan persatuan itu
menunggu waktu
seberapa lama lagi
luka itu sembuh dan mengering
dari bermacam konflik
bermacam perbedaan
walau berbeda tetap satu jua.

            Pekanbaru, 14 Oktober 2019





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Puisi dan Parafrasa

Nelayan Nelayan setiap hari kau pergi Ke laut untuk mencari ikan Untuk memenuhi kebutuhan keluarga Walau ada badai dahsyat kau tak peduli. Bentuk Parafrase puisi ke prosa: Nelayan setiap hari pergi ke laut untuk mencari ikan tanpa kenal lelah. Dia melakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah yang selalu menanti dengan penuh kecemasan.Walau ada badai dahsyat yang menerpa, namun dia tetap tak peduli demi kelangsungan hidup sehari-hari. =================================== Tangisan Air mata Bunda Dalam Senyum kau sembunyikan letihmu Derita kala siang dan malam menimpamu tak sedetik pun menghentikan langkahmu Untuk bisa Memberi harapan baru bagiku Bentuk Parafrase puisi ke prosa: Ibu tetap tersenyum walaupun dalam kondisi letih. Meskipun bekerja keras ketika siang dan malam, tidak pernah sedetik saja ia menyerah. Untuk tetap bisa memberikan harapan baru bagi anaknya.

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru