Langsung ke konten utama

Kisah Burung Merak dan Kupu-Kupu

     Di sebuah hutan yang indah, hiduplah seekor burung merak yang sangat sombong. Dia memiliki bulu yang indah dan warna-warna yang cerah, sehingga dia merasa lebih baik daripada hewan-hewan lain di hutan.

Suatu hari, burung merak bertemu dengan seekor kupu-kupu yang lemah dan tidak memiliki warna yang cerah. Burung merak tertawa dan berkata, "Kamu tidak memiliki apa-apa yang istimewa. Kamu hanya seekor kupu-kupu yang lemah dan tidak berguna."

Kupu-kupu itu tidak marah, tapi malah berkata, "Saya mungkin tidak memiliki bulu yang indah seperti kamu, tapi saya memiliki sesuatu yang kamu tidak miliki."

Burung merak tertarik dan bertanya, "Apa itu?"

Kupu-kupu itu menjawab, "Saya memiliki kemampuan untuk berubah dan berkembang. Saya dapat berubah dari telur menjadi larva, kemudian menjadi pupa, dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah. Kamu tidak dapat melakukan itu."

Burung merak merasa keheranan dan menyadari bahwa dia telah salah. Dia meminta maaf kepada kupu-kupu dan berjanji untuk tidak lagi sombong. ***

Berbagai sumber/AI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru