Langsung ke konten utama

Kurangi Emisi Karbon dengan Menanam 1000 Pohon Mangrove di Pulau Pramuka

Menanam 1.000 pohon mangrove di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada Jumat 3 Mei 2024. (Foto: net)

Gerakan penanaman pohon sebagai upaya pemulihan ekosistem dan pengurangan emisi karbon gencar dilakukan. Untuk mewujudkan target penurunan emisi guna menjaga bumi, tentu menjadi tanggung jawab semua pihak. 

Pulau Pramuka menjadi salah satu pulau terdampak dari adanya perubahan iklim, pulau yang dihuni sekitar 1,200 orang pada tahun ini membutuhkan mangrove dalam menjaga abrasi. Sudah terbukti, mangrove menjadi penyalamat pulau ini dari penurunan muka tanah dan abrasi.

Untuk itu, Cathay, sebagai travel lifestyle, bekerja sama dengan Society of Renewable Energy (SRE) menanam 1.000 pohon mangrove di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada Jumat, 3 Mei 2024.

Sebanyak 70 relawan yang tergabung dari Cathay, travel agent, dan relawan SRE beserta masyarakat lokal Pulau Pramuka ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon tersebut. Kegiatan ini merupakan inisiatif Cathay yaitu 1 ticket, 1 tree yang sudah dijalankan sejak 2 tahun lalu dengan jumlah pohon mangrove sebanyak 4.600 pohon.

“1 ticket, 1 tree merupakan komitmen Cathay dalam mendukung komunitas lokal, memulihkan habitat, dan mendorong ketahanan iklim. Hal ini sejalan dengan aspirasi kami untuk menjadi yang terdepan dalam kepemimpinan berkelanjutan," ucap Country Manager Cathay untuk Indonesia, Tony Sham, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/5/2024) seperti dilansir liputan6com.

Guna mencapai target yang lebih cepat, Tony menyampaikan aksi kolaborasi bersama komunitas menjadi cara efektif dalam memperluas dan memperpanjang dampak baik yang diciptakan. Hal itu disampaikan saat pembukaan bersama masyarakat di ruang auditorium Pulau Pramuka. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Cerita Rakyat Melayu Riau : Legenda Putri Tujuh

            Legenda Putri Tujuh sangat termahsyur di Dumai dan menjadi cerita rakyat melayu Riau. Legenda ini menceritakan tentang sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang terdapat di Dumai. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari.           Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.           Seorang pangeran ternama bernama Empang Kuala terpikat dengan kecantikan Mayang Suri. Kemudian ia bermaksud melamar sang gadis. Namun tanpa diduga, pinangan...

The Great Stop: Dunia Tanpa Rotasi

Cerpen Sains Karya: Erwin Hartono Bagian 1: Hari Ketika Waktu Mati Bunyi sirene global raung-meraung membelah langit malam Sumatra yang pekat. Detik itu, jam dinding digital di ruang tamu Alvaro (17 tahun) dan adiknya, Alvari (11 tahun), menunjukkan pukul 21.00 WIB. Namun, jarum jam tak lagi berarti. Di luar, langit malam mendadak memerah darah. Sebuah meteor masif—yang kemudian dinamai Hypnos—menghantam belahan bumi barat dengan kecepatan hipersonik, tepat dari arah yang berlawanan dengan rotasi bumi. Hantaman itu tidak menghancurkan kerak bumi menjadi serpihan, tetapi energinya cukup untuk melakukan satu hal yang mustahil: mengerem putaran bumi hingga berhenti total dalam hitungan menit. "Alvaro! Pegangan!" teriak Alvari histeris. Efek inersia langsung menghajar mereka. Tubuh kedua remaja itu terlempar dahsyat ke arah timur, menghantam dinding rumah. Di luar, suara gemuruh maut terdengar. Angin badai supersonik berkecepatan lebih dari 1.500 km/jam menyapu permukaan bumi. Ru...