Langsung ke konten utama

Bermimpi Jadi Pemimpin Negeri

(di rumah puisi Taufik Ismail/Fadli Zon)
(Karya: Erwin Hartono)

Hari yang  telah mempermalu diri
lewati hari-hari terus berselisih
membenam segala waktu yang berganti
harus berhenti
menelanjangi diri
dari wajah-wajah ngeri
dari masa lalu hingga hinggap di masa kini
dinilai-nilai
masih terlalu dini
untuk unjuk gigi
menggergaji hari
lewat mimpi-mimpi
jadi pemimpin negeri
yang tak pernah tercapai
jadi wakil pun tak tergapai-gapai
yang tak pernah jadi-jadi
tapi hati
masih terus lunglai
menatap impian jadi pemimpin negeri
haruskah kegagalan berbicara demi
demi kamu dan demi kami
mengatasnamakan kemakmuran lewati ketamakan
mengatasnamakan keadilan
walau berbagi-bagi dengan kroni
mengatasnamakan kesejahteraan
namun tanah negeri jadi milik sendiri
rakyat tanpa dibagi
inilah telanjang diri
di Indonesia abad ini
telah mempermalu diri
yang tak malu-malu.
                                                                                         Pekanbaru, 19 Februari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru