Langsung ke konten utama

Keramaian yang Sunyi

(Karya: Erwin Hartono)

Kala keramaian itu memuncak
Semua bersatu dalam suka ria
Senandung gembira disuarakan
Walau hanya sesaat
Sebab begitu cepatnya
Keramaian jadi sunyi sepi
Bagai kota mati
Tanpa penghuni
Di mana keramaian wisata diri
Yang dulu padati sesaki langkah-langkah
Berjalan tanpa lelah
Menapaki setiap tempat
Di kota itu
Hanya tersisa kesunyian
Demi sebuah Corona
Yang sedang lewat
Menebar maut
Dalam setiap langkah
Menebar bencana
Dalam setiap tempat
Di sudut kota itu
Kita pernah duduk duduk
Sekadar menyaksikan keramaian
Namun semua sirna
Demi wabah Corona
Keramaian kota Malaka
Jadi sunyi senyap.

           










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru