Langsung ke konten utama

Negeri Membaca

(Karya: Erwin Hartono)

Kuayun langkah demi langkah
Menapaki negeriku yang terbentang dari sabang hingga merauke
Kutancapkan goresan penaku
Di setiap langkah itu
Untuk mendirikan negeri menulis
Kuhujamkan kata-kata lewat aksara
Di setiap bait buku itu
Untuk mendirikan negeri membaca
Negeri literat

Walau kata orang
Negeriku masih rabun aksara
Walau kata orang
Negeriku  masih tumpul menulis
Walau kata orang
Negeriku negeri malas membaca

Kini masih ada celah dan kerinduan
Menggauli linguistik
Hingga menghasilkan aksara demi aksara yang kreatif
Di khatulistiwa tanda baca
Huruf-huruf itu harus bermakna
Di tangan-tangan anak negeri.


Pekanbaru, 27 Agustus 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Infografis Sekolahku Bersih

Infografis (Karya: Artika/kelas 6C)  

Kover Buku: Rahasia di Balik Pintu Ketiga

Karya: Adelia Rus Arumsar - Kls 5B SD Kalam Kudus Pekanbaru  

Asal Usul Sungai Siak

          Pada zaman dahulu, di sekitar daerah Sungai Siak, terdapat banyak petani cabai yang sangat bergantung pada hasil panen cabai mereka. Namun, suatu musim, cabai gagal panen dan banyak yang membusuk. Para petani sangat kecewa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan cabai yang busuk itu. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk membuang cabai yang busuk itu ke dalam Sungai Siak. Hari demi hari, cabai yang busuk terus dibuang ke dalam sungai, membuat air sungai menjadi pedas dan berwarna kemerahan. Suatu hari, sekelompok orang Batak berlayar di Sungai Siak, mencari tempat untuk beristirahat dan mengisi persediaan air. Mereka merasa haus dan tidak ada air bersih di sekitar, sehingga mereka memutuskan untuk meminum air sungai. Saat mereka meminum air sungai, mereka langsung merasakan kepedasan yang sangat kuat. Mereka serentak mengatakan "Siak!" karena dalam bahasa Batak, "siak" berarti pedas. "Siak kali air sungai ini, bah. Berarti ini...